Siapa yang tidak kenal brand Tangkelek?

Founder Tangkelek Adjie dan Khalid Bersama Wali Kota Padang (Tengah)

Tangkelek merupakan produk lokal minang pertama berkonsep distro

Ternyata dibalik nama Tangkelek 187 terselip cerita yang begitu membekas bagi pemilik bisnis ini.

Pengelola Tangkelek Rori Aroka Rusji mengatakan bisnis tangkelek memiliki dua owner yaitu Fefri Rusji dan Khalid Arafah

Bisnis yang dirintis dua alumni Seni Rupa, Universitas Negeri Padang bermula dari hobi desain grafis.

Lalu Fefri dan Khalid mencoba merambah ke dunia binis pakaian.

Mereka menciptakan sebuah desain kaos yang bernuansa lokal (Minangkabau) untuk dijual secara umum.

“Menurut ceritanya juga mereka dapat ide saat mereka melihat joger bisa berkembang di bali karena di sana kan tujuan wisata. Sumbar juga jadi tujuan wisata kenapa ga bikin baju yang kualitasnya memang distro,” kata Rori kepada TribunPadang.com, Rabu (27/3/2019)

Bisnis yang dirintis dua alumni Seni Rupa, Universitas Negeri Padang bermula dari hobi desain grafis.

Lalu Fefri dan Khalid mencoba merambah ke dunia binis pakaian.

Mereka menciptakan sebuah desain kaos yang bernuansa lokal (Minangkabau) untuk dijual secara umum.

“Menurut ceritanya juga mereka dapat ide saat mereka melihat joger bisa berkembang di bali karena di sana kan tujuan wisata. Sumbar juga jadi tujuan wisata kenapa ga bikin baju yang kualitasnya memang distro,” kata Rori kepada TribunPadang.com, Rabu (27/3/2019)

Akan tetapi akibat gempa besar yang melanda Kota Padang, sempat membuat tangkelek vakum berjualan di Kota Padang.

Tangkelek akhirnya memfokuskan untuk membuka cabang di Bukittinggi terlebih dahulu.

“Istilahnya penjualan darurat,” sebut Rori.

Lalu, lanjut Rori, setelah situasi normal di Kota Padang, Tangkelek kembali membuka outletnya yang berada di Jalan S Parman No 187.

“Tepatnya di Simpang Lampu Merah Ulak Karang,” ujarnya.

Setelah gempa tersebut, mulai nampak kembali peningkatan penjualan.

“Waktu itu juga banyak wisatawan yang datang sekaligus menjadi relawan, dari situ mulai naiknya, karena banyak juga yang saat itu meliput,” kata pria asal Kabupaten Limapuluh Kota ini.
Menurut Rori, kejadian gempa tersebut menjadi sejarah yang sangat kuat bagi dua owner tangkelek ini.

“Karena awal bangkitnya saat di S Parman No 187 itu, tonggak awal mulainya tangkelek hidup lagi di situ, makanya namanya diambil dari situ, Tangkelek 187,” cerita Rori.

Sedangkan untuk arti nama Tangkelek sendiri, juga memiliki cerita lain.

Rori menceritakan awal mulanya bisnis ini diberik nama lamang tapai.

“Karena waktu itu dapat toko di lapai,” sebutnya.

Rori menjelaskan kata tangkelek memiliki filosofi yang bagus.
Diibaratkan seandainya tangkelek jatuh, masih berbunyi, dan siapa aja yang menggunakannya juga pasti berbunyi.

“Tangkelek berasal dari kayu, bersifat keras dan tahan banting, kalau seandainya jatuh tidak akan pecah tapi pasti tetap akan berbunyi,” kata Rori

Mereka berharap masyarakat masih tetap ingat kalau tangkelek pernah ada nantinya seiring berkembangnya zaman.

Tangkelek merupakan sebuah produk lokal minang yang berkonsep distro, namun kini telah berkembang menjadi clothing.

“Sudah bisa dibilang clothing karena sudah melakukan konveksi sendiri, yang dilakukan di Payakumbuh. Yang kami gak punya cuman bahan baku, selebihnya pengerjaan sudah dilakukan sendiri,” tutur pria berumur 30 tahun ini.
Tak hanya itu, kini Tangkelek sudah memiliki tujuh cabang di Sumatera Barat.

Di antaranya berada di Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Solok, Pariaman, Pasaman Barat, dan Bandara International Minangkabau.

Selain menjual baju kaos, Tangkelek juga menjual celana, sweater, jaket hujan, sendal, topi, tas hingga gelang.

Harganya berkisar dari Rp 50 ribu hingga Rp 215 ribu.

“Kalau gelang kami menjualnya seharga Rp 15 ribu,” tambah Rori

Artikel ini telah tayang di Tribunpadang.com dengan judul Cerita di Balik Nama “Tangkelek 187”,Clothing Pertama di Padang Memiliki 7 Cabang di Sumatera Barat, https://padang.tribunnews.com/2019/03/28/cerita-di-balik-nama-tangkelek-187clothing-pertama-di-padang-memiliki-7-cabang-di-sumatera-barat?page=3.
Penulis: Nadia Nazar
Editor: Mona Triana

(Visited 39 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *